Aku masih saja memikirkan bintang laut itu. Tiba-tiba si anak berlari ke arah ku. Ia membawa toples yang dulu, masih berisi si bintang laut, namun tanpa air. Dengan sekop di tangan yang lain. Ahh.. akhirnya kau datang juga. Tapi ada yang lain. Bintang laut itu tak bergerak sama sekali. Dan lihat, mata anak kecil itu tampak bengkak seperti habis menangis. Di hadapan ku, si anak menggali tanah lalu mengambil si bintang laut dan meletakkan nya di lubang itu. Air mata menetes di pipi si anak. Apa ini? Mengapa begini? Bintang laut itu tak seharusnya di tanah sepertiku. Ia membutuhkan air. Air laut yang asin. Jangan letakkan ia di situ, anak manis. Tapi… heii.. si anak mulai menutup tubuh si bintang laut dengan tanah..hingga ia tak terlihat lagi olehku maupun si anak. Lalu, anak itu menangis sejadi-jadinya. Ahhhh… apa ini? Si bintang laut ternyata tak mampu bertahan dengan toples dan air asin itu.. Dan sekarang, walau ia bersama ku, ada di tanah yang sama dengan ku.. tapi, aku tak bisa melihatnya. Dan lebih sakit rasanya, jika dibandingkan ketika aku merindukannya. Bukan ini yang ku inginkan Tuhan.. Apa yang ingin Kau tunjukkan pada ku, Tuhan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar