Aku masih saja memikirkan bintang laut itu. Tiba-tiba si anak berlari ke arah ku. Ia membawa toples yang dulu, masih berisi si bintang laut, namun tanpa air. Dengan sekop di tangan yang lain. Ahh.. akhirnya kau datang juga. Tapi ada yang lain. Bintang laut itu tak bergerak sama sekali. Dan lihat, mata anak kecil itu tampak bengkak seperti habis menangis. Di hadapan ku, si anak menggali tanah lalu mengambil si bintang laut dan meletakkan nya di lubang itu. Air mata menetes di pipi si anak. Apa ini? Mengapa begini? Bintang laut itu tak seharusnya di tanah sepertiku. Ia membutuhkan air. Air laut yang asin. Jangan letakkan ia di situ, anak manis. Tapi… heii.. si anak mulai menutup tubuh si bintang laut dengan tanah..hingga ia tak terlihat lagi olehku maupun si anak. Lalu, anak itu menangis sejadi-jadinya. Ahhhh… apa ini? Si bintang laut ternyata tak mampu bertahan dengan toples dan air asin itu.. Dan sekarang, walau ia bersama ku, ada di tanah yang sama dengan ku.. tapi, aku tak bisa melihatnya. Dan lebih sakit rasanya, jika dibandingkan ketika aku merindukannya. Bukan ini yang ku inginkan Tuhan.. Apa yang ingin Kau tunjukkan pada ku, Tuhan?
Jumat, 16 Maret 2012
Ketika Durian Jatuh Cinta pada Bintang Laut #2
Sejak ku lihat bintang laut itu, aku selalu memikirkannya. Dia begitu indah dan cantik. Tak pernah kulihat sebelumnya makhluk seperti itu. Namun, KAMI BERBEDA, walau kami sama-sama makhluk ciptaan Tuhan. Lalu, mengapa aku selalu memikirkannya? Sudah jelas kami sangat berbeda. Aku di darat, ia di laut. Aku tumbuhan, sedangkan dia hewan. Bahkan aku tak pernah lagi melihatnya. Dulu, yang pertama dan yang terakhir. Tapi entah mengapa, rasa yang aneh ini selalu ada, sejak pertemuan kami yang hanya dalam hitungan jam itu. Anak pemilik kebun, mengapa engkau tak pernah bermain di sini lagi? Jika kau ke sini nanti, bawalah sobat kecilmu itu, aku merindukannya..
Ketika Durian Jatuh Cinta pada Bintang Laut #2
Sejak ku lihat bintang laut itu, aku selalu memikirkannya. Dia begitu indah dan cantik. Tak pernah kulihat sebelumnya makhluk seperti itu. Namun, KAMI BERBEDA, walau kami sama-sama makhluk ciptaan Tuhan. Lalu, mengapa aku selalu memikirkannya? Sudah jelas kami sangat berbeda. Aku di darat, ia di laut. Aku tumbuhan, sedangkan dia hewan. Bahkan aku tak pernah lagi melihatnya. Dulu, yang pertama dan yang terakhir. Tapi entah mengapa, rasa yang aneh ini selalu ada, sejak pertemuan kami yang hanya dalam hitungan jam itu. Anak pemilik kebun, mengapa engkau tak pernah bermain di sini lagi? Jika kau ke sini nanti, bawalah sobat kecilmu itu, aku merindukannya..
Ketika Durian Jatuh Cinta pada Bintang Laut #1
Aku berduri, bauku menyengat.Aku hidup di darat. Tanah lah tempatku tumbuh, dengan siramanan air hujan yang menyegarkan. Aku hidup di kebun milik seorang petani yang memiliki seorang anak perempuan. Lalu, aku melihat si anak membawa toples, menyusul si ayah yang sedang berkebun.
Indah, cantik. Makhluk di dalam toples berisi air itu seperti bintang.
Ku dengar si anak bertanya pada bapak pemilik kebun
“Yah, ini air asin ya, yah?”
“iya, karena bintang laut habitat aslinya di laut dengan air laut yang asin, jadi dia harus hidup di air asin..” jawab pemilik kebun
Ohhh.. aku tahu! Rupanya ia bintang laut
Tak pernah ku lihat sebelumnya
Bisa kah aku mengenalnya?
Walau KAMI SANGAT BERBEDA..
Kami sama-sama makhluk Tuhan, bukan?
Langganan:
Postingan (Atom)